20 April, 2024

Panca Buana News

Jendela Informasi Dunia Anda

Junjun : Iuran Itu Hasil Musyawarah Bersama Orangtua Siswa

Pancabuananews.com, kabupaten Bandung – Berdasarkan perbincangan antara tukang ojeg dan pemilik warung depan terminal Ciwidey mereka berdua menceritakan bahwa sekolah SMA AL Amanah kecamatan Ciwidey kabupaten Bandung meminta iuran atau bayaran untuk biaya ujian kepada siswanya.

Perihal tersebut mamancing reaksi awak pancabuananews beserta tim media lainya untuk mencari kebenaran hal tersebut dan mencoba mengkonfirmasi kepada pihak sekolah.

Tepatnya,kamis,14/12/2022 awak mediapancabuananews beserta tim media lainya berhasil mendapat keterangan dari salah seorang siswa kelas X yang berinisial (W) berasal dari desa panundaan,ia berbicara harus bayar Rp 100,000 untuk pembayaran mengikuti ujian,ujarnya.

Dan apa yang dikatakan oleh (W) itu dibenarkan oleh humas sekolah yang bernama Junjun mewakili kepala sekolah yang dalam keadaan sakit dan untuk sekarang ini kepala sekolah belum bisa ditemui,iuran Rp 100.000 tersebut memang ada,tapi itu hasil dari musyawarah dan keputusan bersama antara kami pihak sekolah dan orangtua siswa.

“Kami pihak sekolah beserta yayasan,juga komite sekolah beserta orangtua siswa jauh jauh hari tepatnya setelah penerimaan siswa didik baru kami mengadakan musyawarah atau rapat terlebih dahulu yang bertujuan menjelaskan juga mensosialisasikan sekolah kami yang berstatus swasta,dan juga ada ketentuan atau peraturan yang kami buat yang diketahui oleh komite sekolah,tak terkecuali adanya penggalangan dana atau iuran yang sipatnya dana sumbangan pembangunan (DSP) dan juga ada iuran menghadapi ujian,iuran ujian tersebut diperuntukkan buat membayar insentif pengawas ujian yang tidak tercover oleh dana BOS dan itu semua atas dasar hasil pemikiran komite sekolah dengan tujuan demi keberlangsungan pendidikan anak anak kita semua,”jelasnya.

Dilain hari,Jum’at 15/12/2022 ketua komite sekolah H.Ahmad Sudjana menjelaskan apa yang diterangkan oleh humas sekolah tersebut.

“Kami tidak berani mengambil tindakan atau membuat peraturan semena mena apalagi yang menyangkut dengan penggalangan dana dengan cara iuran atau sumbangan,karena takut bertentangan dengan peraturan yang dikeluarkan oleh kemendikbud,”katanya.

Sebelum membuat peraturan untuk memohon sumbangan atau iuran,Kami terlebih dahulu mengundang kepada para orangtua siswa untuk memusyawarahkan apa yang akan kami putuskan terkait adanya pembayaran uang DSP dan uang  iuran ujian atau sumbangan 100.000 rupiah.Yang diantaranya uang tersebut akan dipergunakan untuk membayar insentif pengawas ujian, untuk membantu kebutuhan siswa yang tidak mampu atau yatim dan dhuafa juga untuk kebutuhan lainya yang tidak di cover oleh Dana BOS, Dan iuran atau bayaran tersebut tidak mengikat,hanya bagi yang mampu bayar saja dan bagi yang tidak mampu kami bebaskan segala sesuatunya bahkan kami bantu keperluannya,asal sesuai ketentuan dan berdasarkan keterangan dari desa,tambahnya.

Pada hari yang sama,guna mengimbangi apa yang sudah diterangkan oleh ketua komite dan humas sekolah,awak media pancabuananews beserta tim dari media lainya mencoba mencari data atau keterangan dari sumber lain.

Dan alhasil,keterangan yang didapat dari salah seorang orangtua siswa (TS) ayah dari siswi yang bernama (SA) alamat Sinapeul desa Alamendah kecamatan Rancabali.gak jauh beda dengan apa yang diterangkan oleh komite dan pihak sekolah, Dirinya mengaku demi pendidikan anak,saya patuhi peraturan sekolah dan membayar iuran tersebut.

“Saya hanya seorang sopir,dan terus terang kehidupan saya sederhana bahkan cenderung pas-pasan tapi kalau dibilang tidak mampu saya tidak mau.akan tetapi meski dengan susah payah dan kerja keras demi pendidikan anak,saya berupaya mengutamakan,uang 100.000 untuk sekarang ini nilainya tidak kecil dan tidak besar,meskipun agak sulit di dapat kalau kita mau berikhtiar pasti selalu ada saja jalan keluarnya dan ada rejekinya,”paparnya.

Hal senada disampaikan juga oleh (D) ayah dari salah seorang siswa yang tidak mau disebut inisial namanya,bahwa untuk anaknya ia cuma mampu bayar setengah uang iuran mengikuti ujian.

“Bukanya saya memanfaatkan atau ingin membuktikan apa yang telah kita sepakati antara orangtua siswa beserta sekolah,tapi untuk kali ini dengan segala keterbatasan saya hanya sanggup membayar setengah dari uang Rp 100.000 untuk iuran ujian,dan Alhamdulillah pihak sekolah memberikan keringanan serta kebijakan kepada anak saya,”terangnya.

Dan saya dengar langsung dari Lilis, istri teman saya warga Cihanjawar desa Ciwidey kecamatan Ciwidey,ia mengatakan bahwa kedua anak dari almarhum Agus yang sekolah di yayasan Al amanah tersebut dibebaskan biaya dan dibantu segala sesuatunya,bahkan kata Lilis anak dari almarhum Agus itu sudah lulus dan sudah bekerja,pungkas D.***(Hr).